-->

Tentang Percaya yang Pernah Retak

https://id.pinterest.com/pin/415738609373650398/
 

Aku tidak pernah benar-benar siap kehilangan dia.
Bahkan ketika kata "kita udahan aja" keluar dari mulutku, hatiku sebenarnya masih menggenggam namanya erat-erat.

Aku yang memutuskan.
Bukan karena berhenti mencintai, tapi karena terlalu sering merasa tidak tenang.

Hubungan kami dulu tidak selalu buruk. Ada masa di mana semuanya terasa sederhana. Tertawa tanpa alasan, cerita sampai larut malam, dan saling merasa bahwa dunia cukup kecil untuk berdua saja.
Sampai suatu hari aku tahu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Pengkhianatan.

Sejak hari itu, semuanya berubah. Dia memang meminta maaf. Dia juga bilang itu kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dan anehnya, aku memaafkan.
Tapi ternyata memaafkan tidak sama dengan melupakan.
Ada hari-hari di mana semuanya terlihat baik. Kami masih jalan bersama, masih saling bercanda. Tapi di kepalaku, selalu ada bayangan kecil yang tiba-tiba datang.

Dia lagi sama siapa sekarang?
Dia jujur nggak ya?
Apa yang dulu terjadi bakal kejadian lagi?

Pikiran itu datang tanpa diundang. Kadang tengah malam. Kadang saat sedang bekerja. Kadang saat dia tidak membalas pesan beberapa jam.

Dan yang paling menyiksa adalah: aku masih sangat menyayanginya.

Aku berusaha melawan pikiran itu. Berkali-kali meyakinkan diri bahwa semua orang berhak mendapat kesempatan kedua. Tapi semakin lama, aku sadar satu hal.
Cinta tidak cukup kalau hati terus merasa was-was.
Aku tidak mau menjadi orang yang selalu curiga. Tidak mau menjadi lelaki yang setiap hari memeriksa, mempertanyakan, atau menahan seseorang dari kehidupannya.

Jadi suatu hari, dengan dada yang terasa berat, aku memilih pergi.

Aku bilang kita harus selesai.

Dan sejak hari itu, kami benar-benar berpisah.

Aku kira semuanya akan berhenti di sana.

Tapi ternyata tidak.

Hari dimana aku mengetahui sesuatu yang membuat hatiku seperti ditarik kembali ke masa lalu. Dia kembali ke tempat yang dulu membuatku tidak nyaman. Tempat yang pernah menjadi bagian dari cerita yang menghancurkan kepercayaanku.

Lucunya, kami sudah tidak bersama.
Dia bebas melakukan apa pun.

Tapi tetap saja rasanya sakit.

Bukan karena aku berhak melarangnya lagi.
Melainkan karena aku sadar satu hal yang paling jujur dari semuanya.

Aku masih mencintainya.

Dan kadang hidup memang seperti itu. Kita tidak selalu meninggalkan seseorang karena berhenti mencintai mereka. Kadang kita pergi justru karena kita terlalu mencintai diri kita sendiri untuk terus hidup dengan luka yang sama.

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti dia akan kembali.
Aku juga tidak tahu apakah aku masih akan menunggunya.

Yang aku tahu sekarang hanya satu.
Beberapa cinta tidak berakhir karena habis.
Mereka berakhir karena kepercayaan yang pernah retak… tidak pernah benar-benar kembali utuh.