Cinta Itu Tai, dan Aku Pernah Cukup Bodoh untuk Mempercayainya
![]() |
| https://id.pinterest.com/pin/17240411069271228/ |
Sebelum masuk terlalu jauh, aku cuma ingin menegaskan kalau tulisan ini bukan kebenaran mutlak tentang cinta, dan tentu bukan untuk mewakili semua orang. Ini hanyalah opini pribadi dari perjalanan emosional yang pernah atau sedang aku alami. Setiap orang punya pengalaman, luka, dan cara pandang yang berbeda-beda. Jadi kalau tulisan ini terdengar pahit, sinis, atau terlalu jujur, mungkin itu karena ia lahir dari proses yang memang tidak selalu manis.
Ada masa di hidupku di mana aku benar-benar percaya kalau cinta itu bisa menyelamatkan seseorang.
Aku percaya, ketika dua orang saling memilih, semuanya akan terasa lebih ringan. Luka bisa sembuh, hari-hari buruk bisa dilewati, dan dunia yang sering terasa kejam ini setidaknya punya satu sudut kecil yang bisa disebut “rumah”.
Tapi lucunya, semakin aku mengenal cinta, semakin aku sadar
kalau selama ini aku terlalu naif.
Cinta ternyata bukan selalu tentang dipeluk saat hancur.
Kadang cinta justru jadi alasan kenapa seseorang hancur.
Aku pernah ada di titik di mana aku memberikan semuanya. Waktu, tenaga, perhatian, rasa sabar, bahkan bagian-bagian dari diriku yang seharusnya aku simpan baik-baik. Aku pikir, kalau aku cukup tulus, cukup sabar, cukup mengerti, mungkin kali ini cinta akan berpihak padaku.
Ternyata tidak.
Ternyata jadi tulus bukan jaminan untuk diperlakukan dengan benar.
Ternyata jadi baik bukan berarti akan dipilih untuk bertahan.
Dan ternyata mencintai seseorang dengan sepenuh hati justru bisa jadi cara paling pelan untuk menghancurkan diri sendiri.
Yang paling menyebalkan dari gagal dalam percintaan bukan cuma tentang ditinggalkan, tapi tentang bagaimana setelah semuanya selesai, ada bagian dari dirimu yang ikut rusak.
Ada sesuatu yang berubah.
Cara pandangmu berubah.
Caramu mempercayai orang berubah.
Bahkan caramu melihat dirimu sendiri pun ikut berantakan.
dan kau mulai bertanya-tanya,
"Apa aku kurang?"
"Apa aku terlalu banyak?''
"Apa aku terlalu gampang percaya?"
"Atau memang dari awal cinta itu cuma permainan yang dibungkus kata-kata manis supaya orang-orang seperti aku mau masuk perangkap?"
Dan ya, mungkin terdengar pahit.
Tapi setelah cukup sering kecewa, sulit rasanya untuk tetap melihat cinta sebagai sesuatu yang suci. Karena yang aku lihat dari cinta sejauh ini bukan keindahan.
Yang aku lihat justru pengulangan.
Datang.
Bikin nyaman.
Bikin percaya.
Lalu pergi.
Datang.
Bikin merasa spesial.
Bikin hati terbuka.
Lalu berubah.
Datang.
Bilang akan beda.
Lalu berakhir sama.
Polanya selalu itu.
Yang beda cuma nama orangnya.
Dan bodohnya, setiap kali itu terjadi, aku masih sempat berharap. Masih sempat percaya kalau mungkin kali ini tidak akan sesakit yang sebelumnya. Mungkin kali ini aku tidak akan ditinggalkan dalam diriku yang paling rapuh.
Tapi hidup memang punya selera humor yang bangsat.
Karena setiap kali aku mulai percaya lagi, hasilnya selalu berhasil membuatku menyesal telah membuka hati, sampai akhirnya aku pernah ada di fase di mana aku benar-benar tidak ingin mengenal cinta lagi.
Bukan karena aku hebat.
Bukan karena aku sok ganteng.
Bukan karena aku sudah sembuh.
Tapi karena aku capek.
Capek mengulang rasa sakit yang bentuknya beda-beda tapi ujungnya sama.
Capek pura-pura kuat padahal isi kepala kacau.
Capek meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja padahal yang tersisa cuma lelah dan muak.
Di fase itu, aku mulai merasa mati rasa.
Bukan berarti aku tidak bisa merasakan apa-apa.
Aku masih bisa tertawa, masih bisa ngobrol, masih bisa terlihat baik-baik saja.
Tapi soal cinta? Tidak.
Ada semacam tembok yang tumbuh dengan sendirinya.
Bukan karena aku ingin jadi dingin.
Tapi karena hati ini sudah terlalu sering dijadikan tempat transit oleh orang-orang yang tidak pernah benar-benar berniat tinggal.
Dan yang paling ironis, saat aku mulai terbiasa hidup tanpa percaya pada cinta, justru selalu ada seseorang yang datang membawa harapan baru.
Mereka datang dengan cara yang berbeda.
Dengan kata-kata yang terdengar lebih tulus.
Dengan perhatian yang terasa lebih hangat.
Dengan sikap yang seolah berkata,
Tenang, aku tidak akan menyakitimu seperti yang sebelumnya.
Dan seperti orang bodoh yang belum cukup belajar, aku percaya lagi, aku kasih kesempatan lagi, aku buka pintu yang sebelumnya sudah susah payah kututup.
Dan hasilnya?
Sama saja.
Kecewa lagi.
Hancur lagi.
Belajar lagi bahwa manusia memang seringkali datang bukan untuk menetap, tapi hanya untuk meninggalkan bekas.
Di titik itu, aku mulai benar-benar mempertanyakan:
apa sebenarnya yang begitu indah dari cinta sampai semua orang terus memujanya?
Karena kalau jujur, yang paling sering kurasakan dari cinta bukan tenang, bukan aman, bukan bahagia.
Tapi cemas.
Takut kehilangan.
Takut berubah.
Takut tidak cukup.
Takut diganti.
Takut ditinggalkan setelah dibuat percaya.
Dan semakin lama aku pikir-pikir, semakin aku merasa bahwa cinta memang terlalu dibesar-besarkan.
Orang-orang bilang cinta itu menyembuhkan.
Tapi banyak orang justru harus sembuh karena cinta.
Orang-orang bilang cinta itu rumah.
Tapi banyak orang malah kehilangan dirinya sendiri saat mencoba tinggal di dalamnya.
Orang-orang bilang cinta itu indah.
Tapi entah kenapa, banyak yang pulang dari cinta dalam keadaan hancur.
Jadi maaf kalau hari ini aku terdengar apa banget.
Bukan karena aku tidak pernah serius.
Justru karena aku pernah terlalu serius sampai akhirnya aku tahu rasanya kehilangan diri sendiri hanya demi mempertahankan sesuatu yang ternyata tidak pernah benar-benar ingin bertahan.
Aku pernah mencoba jadi orang yang sabar.
Aku pernah mencoba jadi orang yang mengerti.
Aku pernah mencoba jadi orang yang tidak banyak menuntut.
Aku pernah mencoba jadi orang yang tetap tinggal bahkan ketika aku sendiri mulai terluka.
Dan semua itu tidak menyelamatkanku dari kegagalan.
Jadi kalau sekarang aku bilang aku muak dengan cinta, itu bukan sekadar kalimat emosional yang ditulis saat malam sedang sepi, itu hasil dari terlalu banyak kecewa yang menumpuk diam-diam, itu hasil dari terlalu banyak luka yang tidak sempat dibahas karena semua orang keburu bilang,
"nanti juga sembuh."
Padahal kadang masalahnya bukan soal sembuh atau tidak.
Kadang masalahnya adalah:
setelah semua ini, aku tidak lagi bisa melihat cinta dengan cara yang sama.
Ada sesuatu yang mati.
Mungkin kepercayaan.
Mungkin harapan.
Mungkin diriku yang dulu masih bisa memandang cinta dengan mata yang bersih.
Sekarang, ketika orang bicara soal cinta, aku tidak lagi membayangkan sesuatu yang manis.
Aku justru membayangkan rasa lelah.
Aku membayangkan pengkhianatan kecil yang awalnya terlihat sepele lalu tumbuh jadi luka besar.
Aku membayangkan janji-janji yang diucapkan dengan yakin tapi dibuang begitu saja saat keadaan berubah.
Dan mungkin ini terdengar kasar.
Tapi semakin aku mengenal cinta, semakin aku merasa satu hal:
cinta itu tai.
Iya, tai.
Karena dari jauh sering kelihatan biasa aja.
Kadang malah dibungkus cantik, diberi nama yang indah, diberi kesan hangat dan menenangkan.
Tapi semakin dekat, semakin nyata busuknya.
Dan yang paling sial adalah ketika kita sudah telanjur menyentuhnya, percaya padanya, bahkan menyimpannya terlalu lama, baru sadar bahwa yang kita pertahankan selama ini ternyata cuma sesuatu yang perlahan-lahan bikin kita jijik pada diri sendiri.
Apakah itu berarti aku tidak akan pernah percaya cinta lagi?
Aku tidak tahu.
Mungkin suatu hari nanti aku akan sembuh.
Mungkin suatu hari nanti aku akan bertemu seseorang yang tidak datang hanya untuk mengulang luka lama dengan wajah baru.
Tapi untuk hari ini, aku hanya ingin jujur.
Bahwa aku lelah.
Bahwa aku kecewa.
Bahwa aku gagal.
Dan bahwa setelah semua yang terjadi, aku tidak punya cukup energi untuk berpura-pura menganggap cinta sebagai sesuatu yang indah.
Karena sejauh ini, cinta tidak pernah benar-benar mengajarkanku tentang kebahagiaan. Cinta hanya mengajarkanku satu hal:
jangan terlalu percaya pada sesuatu yang datang dengan wajah paling manis.
Sebab sering kali, yang paling manis di awal adalah yang paling pahit saat berakhir.
#collaborateWithAI

Post a Comment